Connect with us

Uncategorized

PAPARKAN MODEL PEMBINAAN NARAPIDANA TERORISME BERBASIS PENDIDIKAN KARAKTER, MUSTAKIN RAIH GELAR DOKTOR PAI DARI UNIVERSITAS ISLAM JAKARTA

Ujian Sidang Terbuka Guna memperolah Gelar Doktor Pendidikan Agama Islam pada Program Doktor Pascasarjana (S3) Universitas Islam Jakarta, yang digelar pada Senin 1 September 2024, telah meluluskan 2 Mahasiswa Program Doktor PAI UID, dimana dua peserta Ujian, yaitu Promovendus Mustakim dan Promovendus Sarman telah berhasil mempertahankan desertasi didepan Senat Sidang Terbuka dalam agenda Ujian Terbuka Program Doktor Pendidikan Agama Islam UID, di Aula Bab Al-Rusydi, Kampus Universitas Islam Jakarta.
Promovendus Mustakim dalam Sidang dengan desertasi berjudul “Model Pembinaan Narapidana Terorisme Berbasis Pendidikan Karakter”, yang di uji oleh 6 Profesor baik dari internal UID maupun penguji dari luar, diantaranya, Prof. Dr. Ir. Raihan, M.Si. (Rektor Universitas Islam Jakarta), Prof. Dr. Dede Rosyada, MA. (Kepala Prodi Program Doktor Universitas Islam Jakarta), Dr. Abd. Choir, MA (Dosen Tetap Universitas Islam Jakarta), Dr. E. Saefuddin Mubarak, SE, MM (Dosen Tetap Universitas Islam Jakarta), Prof. Dr. Marhamah, M.Pd (Dosen Tetap Universitas Islam Jakarta), Prof. Dr. Farhana, M.PdI, MH (Dosen Tetap Universitas Islam Jakarta) dan Penguji Eksternal, Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, (Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.)

Dalam desertasinya, Mahasiswa Program Doktor UID, Mustakim yang juga anggota Polri yang berdinas di Pam Obvit Polda Metro Jaya,terebut, telah melakukan penelitian atau tugas akademik dalam menyelesaikan pendidikan program Doktor (S3) Pendidikan Agama Islam di Universitas Islam Jakarta (UID), dengan menyelesaikan desertasinya dengan judul “Model Pembinaan Narapidana Terorisme Berbasis Pendidikan Karakter”, dan setelah berhadapan dengan Dewan Penguji yang terdiri dari 6 Profesor, Promovendus Mustakim dengan Studi Kasus Di Rumah Tahanan Direktorat Perawatan Tahanan Dan Barang Bukti Polda Metro Jaya, akhirnya promovendus Mustakim berhasil mempertahankan desertasinya, serta dinyatakan lulus dan berhak menyandang gelar Doktor.
Rektor Universitas Islam Jakarta, Prof Raihan, usai menguji dan memberikan gelar doktor pada Dr Mustakim menegaskan, bahwa Dr Mustakim merupakan lulusan Program Doktor UID yang ke 62, kita bersyukur hari ini UID kembali meluluskan Mahasiswa program Doktor Pendidikan Agama Islam, dan menunjukkan bahwa UID Konsisten dengan karya-karya penelitian para mahasiswa untuk memajukan pendidikan Agama Islam, dan hari ini desertasi Promovendus Mustakim telah memberikan masukan terhadap pola pembinaan di Kepolisian, khususnya dalam pembinaan tahanan terorisme.

Pola pembinaan yang disusun dengan beberapa model pembinaan, sebagai bentuk evaluasi atas model pembinaan tahanan khususnya tahanan terorisme yang dilakukan selama ini, sehingga muncul ide baru dalam pola pembinaan khususnya tahanan yang ada di Polda Metro Jaya, ungkapnya.

Sementara Kepala Prodi Program Doktor Universitas Islam Jakarta, Prof. Dr. Dede Rosyada, MA. usai menguji promovendus Mustakim menegaskan bahwa Desertasi hasil penelitian promovendus kali ini cukup bagus, dengan Pendekatan soft approach dilakukan untuk pembinaan bagi tahanan, karena selama ini metode tersebut belum pernah ada, sehingga orang tersebut semakin sadar dan mau kembali ke NKRI, dan memahami idiologi Pancasila serta kembali dalam kehidupan bermasyarakat dengan baik, ungkapnya.

Usai meraih gelar Dr. Mustakim pada wartawan menegaskan, bahwa penelitian dilakukan kepada para Napi terorisme yang ada didalam binaan Polda Metro Jaya, dimana Pembinaan narapidana terorisme, merupakan tantangan besar dalam upaya deradikalisasi dan reintegrasi sosial. Model pembinaan yang efektif harus mencakup pendekatan yang holistik, salah satunya melalui pendidikan karakter. Dan penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengembangkan model pembinaan narapidana terorisme berbasis pendidikan karakter yang dapat membentuk perilaku yang lebih positif, dan mendukung proses reintegrasi mereka ke dalam Masyarakat.

Mustakim melihat, bahwa pelaku terorisme yang jumlah pelaku serta tahanan terorisme naik turun serta selalu terjadi pada setiap tahunnya. ini menggambarkan bahwa tindakan terorisme masih memiliki potensi yang besar dan selalu terulang. Gambaran ini mengidentifikasikan bahawa pembinaan yang saat ini dilakukan memiliki persentase keberhasilan yang sangat kecil, maka diperlukan model pembinaan yang dapat meningkatkan persentase keberhasilannya, ungkapnya.

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, Metode kualitatif adalah pendekatan penelitian yang digunakan untuk memahami dan menjelaskan fenomena sosial dengan mendalam. Pendekatan ini lebih berfokus pada makna, konteks, dan kompleksitas dari suatu fenomena, daripada sekedar mengukur atau mengidentifikasi hubungan antara variabel-variabel tertentu. Pendekatan grounded theory adalah untuk menghasilkan atau menemukan suatu teori yang berhubungan dengan situasi tertentu. Jadi inti dari pendekatan grounded theory ialah pengembangan suatu teori yang berhubungan erat kepada konteks peristiwa yang dipelajari.

Pendekatan soft approach berbasis pendidikan karakter yang telah dilakukan, menurutnya telah berhasil mengubah ideologi dan perilaku narapidana terorisme. Pendidikan karakter yang berfokus pada nilai-nilai moral dan etika, seperti toleransi, perdamaian, dan empati, membantu narapidana meninggalkan ideologi radikal dan mengadopsi pandangan yang lebih moderat dan inklusif. Narapidana yang mengikuti program soft approach berbasis pendidikan karakter menunjukkan tingkat residivisme yang lebih rendah dan kemampuan yang lebih baik untuk beradaptasi kembali ke masyarakat. Program ini memfasilitasi proses reintegrasi dengan melibatkan keluarga dan komunitas, sehingga narapidana mendapatkan dukungan sosial yang diperlukan, serta bisa kembali ke tengah masyarakat, dan bisa diterima masyarakat dengan baik, paparnya. (Nrl).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Uncategorized