Bertempat di Aula Masjid Bab Al Rosydi Kampus Universitas Islam Jakarta, selasa (14/7/2026), mahasiswa program Doktor ( S3 ) Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Jakarta, Ahmad Zuhdi dalam sidang terbuka guna memperoleh Gelar Doktor Pendidikan Agama Islam pada Program Doktor Pascasarjana Universitas Islam Jakarta, sukses mempertahankan disertasinya, hingga meraih gelar Doktor Pendidikan Agama Islam dengan predikat Cumlaude.
Dalam sidang ujian tersebut, Promovendus Ahmad Zuhdi diuji oleh tim penguji diantaranya, ketua Prof. Dr. Ir. Raihan, M.Si (Guru Besar / Rektor Universitas Islam Jakarta), Sekretaris Prof. Dr. Dede Rosyada, MA (Ketua Prodi Program Doktor Universitas Islam Jakarta), anggota Prof. Dr. Farhana, MPd (Guru Besar Universitas Islam Jakarta), Dr. Attabik Luthfi, MA (Dosen Tetap Universitas Islam Jakarta), Dr. Syahrullah, M.Pd.I (Dosen Tetap Universitas Islam Jakarta) serta Penguji Eksternal Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, MA (Guru Besar Universitas Islam Negeri).
Tema dalam Desertasinya Promovendus Ahmad Zuhdi yaitu “PENGUATAN BUDAYA LITERASI DI KALANGAN SANTRI DALAM MENINGKATKAN KEILMUAN DAN KARAKTER DI PESANTREN”
Ahmad Zuhdi mengungkapkan bahwa tujuan penelitian tersebut untuk mengeksplorasi Budaya Literasi di Pesantren, dengan menganalisi relasi keilmuan dan karakter yang dihasilkan melalui literasi, dan memformulasi konsep budaya literasi. Latar belakang penelitian berangkat dari disparitas yang cukup dalam. Ada negara dengan budaya literasi mencapai 100 persen, seperti Finlandia dan Norwegia. Ada juga negara dengan literasi di kisaran 30 persen, seperti Nigeria, Guinea, Sudan Selatan, Mali, Republik Afrika Tengah, Somalia, dan Afghanistan. Dan Indonesia dari 208 negara menempati posisi ke-100 dengan literasi mencapai 95,44 persen, masih tertinggal dengan Singapura, Brunei, dan Filipina.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi untuk mengeksplorasi secara mendalam esensi pengalaman hidup (Lived experience) santri terkait praktik literasi di lingkungan pesantren. Pemilihan Pesantren Persis 99 Rancabango di Garut sebagai sumber primer dan Pondok Pesantren Daarul Rahman di Jakarta sebagai lokus sekunder didasari oleh karakteristik unik keduanya dalam merepresentasikan dinamika literasi pesantren di lingkungan Persatuan Islam (Persis) dan Nahdlatul Ulama (NU).
Peneliti melakukan triangulasi dengan Pesantren Persis 69 Matraman Jakarta sebagai instrumen penilaian, pengayaan, dan penguatan hasil penelitian. Tahap awal dalam pengolahan data adalah reduksi data. Setelah reduksi data, langkah berikutnya dalam model analisis Miles dan Huberman adalah penyajian data (data display) untuk melakukan analisis hubungan antar variabel secara mendalam. Setelah analisis relationship, peneliti menginterpretasi hasil tersebut guna merumuskan Sebuah sintesis teori.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin kuat budaya literasi yang terintegrasi dengan saintifikasi ilmu-ilmu agama, maka semakin tinggi pula kualitas keilmuan dan karakter yang terbentuk. Semakin santri literat, maka akan semakin luhur keilmuan dan akhlaknya serta memberikan inspirasi dan kebaikan bagi orang lain. Sebab pengetahuan yang benar (ma’rifah) akan menuntun pada tindakan yang benar (amal shalih), dengan hama Literasi Progresif. Penemuan penulis tentang teori Literasi Progresif sejalan dengan Harvey J. Graff, penelitian Olasehinde, John Dewey, Ahmad Sangid, Ali Muhdi, Muhammad Abdul Manan, dan Mahmudi Bajuri. Sebaliknya, pendapat penulis bertentangan dengan Hannah Arendt, Michel Foucault, Theodor W. Adorno, Max Horkheimer, Hasan Baharun, Lailatul Rizgiyah, dan Halimatus Sa’adah.
Rektor UIJ Prof. Raihan menegaskan bahwa Doktor Ahmad Zuhdi merupakan alumini ke 90, disertasinya memberi warna baru pada literasi di pesantren, dan diharapkan dengan adanya karya penelitian ini bisa menjembatani bagaimana pesantren-pesantren itu mendapatkan keilmuan sesuai era digitalisasi, ujarnya.
Sementara Ketua Prodi Program Doktor UIJ Prof. Dede Rosyada, mengungkapkan, disertasi Ahmad Zuhdi, sangat bagus literasinya dikembangkan literasi digital, dan wawasan anak-anak pesantren itu kedepan jauh lebih baik bisa juga dipakai oleh pesantren yang lain, bangsa ini diwarnai sebagai pejabat publik, PNS, pengusaha, sebagai politikus, bangsa ini lebih terwarnai oleh strata sosial.
Tim penguji sidang Doktor Pendidikan Agama Islam menyatakan Ahmad Zuhdi dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude dan berhak menyandang gelar doktor Pendidikan Agama Islam. (Red)